Bersama Bintang (COPAS)

 Lintar hanya hidup bersama adiknya, yaitu Nova karena kedua orangtuanya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Lintar mempunyai sebuah gitar, dan dengan gitar itulah setiap hari Lintar mencari uang untuk makan. Tentunya untuk makan adiknya dan dirinya sendiri. Saat tidak lelah, Nova juga mengikuti Lintar mengamen.
Suatu hari, mereka tidak mendapatkan uang. Padahal Lintar dan Nova belum makan selama dua hari. Nova menjerit lapar, namun Lintar tak bisa berbuat banyak. Ia hanya berusaha menenangkan adiknya itu dan memintanya untuk bersabar.
Lintar berkumpul bersama anak pengamen lainnya. Dan mereka berbaur ke segala tempat.
Malam harinya, Lintar menyanyikan lagu Laskar Pelangi sambil memainkan gitarnya.
Mimpi adalah kunci
Untuk kita menaklukkan dunia
Berlarilah tanpa lelah
Sampai engkau meraihnya

Laskar pelangi
Takkan terikat waktu
Bebaskan mimpimu di angkasa
Warnai bintang di jiwa

Menarilah dan terus tertawa
Walau dunia tak seindah surga
Bersyukurlah pada yang kuasa
Cinta kita di dunia

Selamanya

Cinta kepada hidup
Memberikan senyuman abadi
Walau hidup kadang tak adil
Tapi cinta lengkapi kita

Laskar pelangi
Takkan terikat waktu
Jangan berhenti mewarnai
Jutaan mimpi di bumi

Menarilah dan terus tertawa
Walau dunia tak seindah surga
Bersyukurlah pada yang kuasa
Cinta kita di dunia

Selamanya

Selamanya

Laskar pelangi
Takkan terikat waktu
Seseorang yang berada dalam mobil mendengar dan melihat Lintar bernyanyi sambil memainkan alat musik gitar. Orang itu tersenyum, dan keluar dari dalam mobil. Setelah itu, ia menghampiri Lintar.
Kebetulan orang itu membutuhkan seorang pendamping penyanyi baru yang bernama Mario Stevano Aditya Haling, ia mengajak Lintar untuk mendampingi penyanyi itu, “Nama adik siapa?” tanyanya ramah.
“Nama saya Lintar…” jawab Lintar.
“Saya adalah manager seorang penyanyi baru yang bernama Mario Stevano Aditya Haling…” ternyata orang itu adalah manager seorang penyanyi baru, “Kata Mario, ia tidak mau sendirian menyanyi. Ia membutuhkan orang yang mendampinginya dalam bernyanyi. Katanya, kalau bisa orang itu pintar memainkan salah satu alat musik seperti adik…” manager penyanyi baru itu tersenyum ke arah Lintar.
“Ja… jadi…” kata Lintar gugup, “Apakah dengan cara itu saya mendapatkan uang?” Lintar bertanya.
“Setiap hari adik bisa mendapatkan uang.” manager penyanyi baru menjelaskan, “Maukah adik Lintar ikut dengan saya?”
“Ta… tapi… Adik saya bagaimana?” Lintar bingung.
“Ya, minta izin dulu sama adikmu.” kata manager penyanyi baru.
Lintar berlari dan mencari adiknya. Dan Lintar melihat adiknya sedang tertidur di depan sebuah toko beras.
Lintar menyanyikan lagu untuk Nova, adiknya…
“Senja kini berganti malam…
Menutup hari yang lelah
Dimanakah engkau berada
Aku tak tahu dimana

Telah kita lalui semua
Jerit tangis canda tawa
Kini hanya untaian kata
Hanya itulah yang aku punya

Tidurlah… selamat malam
Lupakan sajalah aku
Mimpilah dalam tidurmu
Bersama bintang

Sesungguhnya aku tak bisa
Jalani waktu tanpamu
Perpisahan bukanlah duka
Meski harus menyisakan luka

Tidurlah… selamat malam
Lupakan sajalah aku
Mimpilah dalam tidurmu
Bersama bintang

Tidurlah… selamat malam
Lupakan sajalah aku
Mimpilah dalam tidurmu
Bersama bintang

Lupakan diriku
Lupakan aku

Mimpilah dalam tidurmu
Bersama bintang”

itulah untuk terakhir kalinya Lintar bertemu dengan Nova, adiknya. Setelah itu, ia berlari ke tempat manager penyanyi baru berada.
“Kak, saya mau meminta izin kepada adik saya, tetapi adik saya sedang tidur. Dan saya hanya menyanyikan sebuah lagu untuknya.” ujar Lintar.
“Kalau begitu, Lintar naik ke mobil dan ikut kakak.” manager penyanyi baru tersenyum, menyuruh Lintar untuk masuk ke mobilnya.
Mobil melaju pelan membawa Lintar dan manager penyanyi baru di tengah sunyinya dan gelapnya malam.
Akhirnya, mobil berhenti. Dan di depan mobil, seorang anak berdiri. Dialah penyanyi baru itu.
“Kak, apakah kakak sudah menemukan orang yang tepat untuk mendampingiku dalam bernyanyi?” tanya penyanyi baru itu. Penyanyi baru itu adalah adik dari manager penyanyi baru.
“Ini, dek. Silakhan berkenalan dulu dengan anak ini.” manager penyanyi baru itu mempersilahkan, dan melangkah sedikit menjauh.
“Halo, namamu siapa?” tanya penyanyi baru itu yang biasa dipanggil Rio.
“Namaku Lintar.” Lintar tersenyum ke arah Rio.
“Apakah kamu diajak managerku yang juga kakakku untuk mendampingiku dalam bernyanyi?” Rio bertanya.
“I… iya.” jawab Lintar gugup.
“Apakah kamu juga bisa memainkan salah satu alat musik?” Rio bertanya lagi.
“Aku bisa memainkan alat musik gitar.” Lintar menunjukkan gitarnya.
“Coba kamu mainkan salah satu lagu yang kamu bisa dengan gitarmu.” pinta Rio.
Lintar melalukan apa yang di pinta oleh Rio. Ia memainkan sebuah lagu dengan gitarnya. Tak lupa sambil bernyanyi.
Ditengah sunyinya gelapnya malam yang menemaniku
Kurasakan rinduku padamu
Bintang-bintang malam tersenyum padaku, tertawa padaku, melihat sikapku rindukanmu Ingin ku berlari menembus sang waktu, untuk dapatkanmu, memeluk dirimu selalu
Sungguh ku tak bisa berpisah denganmu, walaupun sedetik, karena ku begitu mencintaimu

Cinta dalam hatiku hanyalah untuk dirimu
Takkan terganti dihatiku selamanya
Tak mungkin bisa ku hidup tanpa kasih sayangmu
Separuh jiwamu tlah dihatiku

Ingin ku berlari menembus sang waktu
Untuk dapatkanmu, memeluk dirimu selalu
Sungguh ku tak bisa hidup tanpamu, walaupun sedetik, karnaku begitu mencintaimu

Cinta dalam hatiku hanyalah untuk diriku
Takkan terganti dihatiku selamanya
Tak mungkin bisa ku hidup tanpa kasih sayangmu
Separuh jiwamu tlah dihatiku

Jangan lah pernah engkau tinggalkan diriku
Karna kau adalah nyawa hidupku
“Itu lagu ciptaan siapa? Aku belum pernah mendengarnya…” Rio bertanya.
Lintar menjawab, “Itu lagu ciptaanku sendiri, judulnya Nyawa Hidupku… Bagaimana? Bagus, kan?”
“Bagus… bagus banget malah…” Rio berdecak kagum.
“Hehehe…” Lintar hanya tertawa.
Rio meminta izin kepada Lintar agar lagu ciptaan Lintar ada di album perdananya. Tentunya Lintar juga ikut bernyanyi sambil memainkan alat musik karena Rio membutuhkan  pendamping dalam bernyanyi.
Mananger Rio mengajukan lagu Nyawa Hidupku ada di album perdana Rio bersama Lintar, pihak sebuah label rekaman pun menyetujuinya. Lagu “Nyawa Hidupku” dan lagu lainnya direkam.
Semakin lama, album Rio bersama Lintar laris di pasaran. “Nyawa Hidupku” yang menjadi single utama album mereka laris digunakan sebagai nada sambung telepon dua juta orang di negeri ini.
Rio dan Lintar akan tampil di sebuah acara untuk mempromosikan lagu “Nyawa Hidupku”.
**
Selama beberapa bulan, Nova tidak pernah bertemu lagi dengan Lintar, sang kakak yang biasanya selalu menemaninya saat tidak mengamen mencari uang untuk makan.
Nova berjalan tak tahu arah. Ia hanya mengikuti kemana langkah kakinya berjalan. Di dalam hatinya Nova berharap agar ia bertemu kembali dengan sang kakak tercinta.
Ia melihat di balai desa orang-orang beramai-ramai menonton televisi. Nova juga penasaran mengapa setiap minggunya orang beramai-ramai menonton televisi di balai desa, ia berusaha menyelip di antara banyaknya warga desa yang menonton.
“Nah, inilah penyanyi baru di tanah air kita. Kita sambut… Rio dan Lintar!” seru pembawa acara yang ada di televisi.
Rio dan Lintar muncul di televisi, membawakan lagu “Nyawa Hidupku”.
“Kak Lintar?” Nova menatap tidak percaya kakaknya, Lintar ada di televisi.
Lintar:
Ditengah sunyinya gelapnya malam yang menemaniku
Kurasakan rinduku padamu

Rio:
Bintang-bintang malam tersenyum padaku, tertawa padaku, melihat sikapku rindukanmu
ingin ku berlari menembus sang waktu, untuk dapatkanmu, memeluk dirimu selalu

Lintar:
Sungguh ku tak bisa berpisah denganmu, walaupun sedetik, karena ku begitu mencintaimu

Rio dan Lintar:
Cinta dalam hatiku hanyalah untuk dirimu
Takkan terganti dihatiku selamanya
Tak mungkin bisa ku hidup tanpa kasih sayangmu
Separuh jiwamu tlah dihatiku

Lintar dan Rio:
Ingin ku berlari menembus sang waktu
Untuk dapatkanmu, memeluk dirimu selalu
Sungguh ku tak bisa hidup tanpamu, walaupun sedetik, karnaku begitu mencintaimu

Cinta dalam hatiku hanyalah untuk diriku
Takkan terganti dihatiku selamanya
Tak mungkin bisa ku hidup tanpa kasih sayangmu
Separuh jiwamu tlah dihatiku

Jangan lah pernah engkau tinggalkan diriku
Karna kau adalah nyawa hidupku
“Ja… jadi selama ini Kak Lintar tidak ada karena ia berusaha untuk menjadi penyanyi terkenal?” airmata Nova mulai mengalir.
“Rio, bagaimana perjalanan karirmu sampai sekarang ini Rio berada di sini?” presenter acara itu bertanya kepada Rio.
“Dulu saya hanya ikut kakak ke tempat kerjanya di sebuah perusahaan rekaman. Terus, di sana saya disuruh bernyanyi dan akhirnya teman-teman kakak saya menyarankan saya agar membuat beberapa album. Akhirnya, saya menyetujuinya. Tetapi saya tidak mau bernyanyi sendirian. Karena itulah, saya meminta bantuan kepada kakak untuk mencari orang yang mau mendampingi saya dalam bernyanyi. Akhirnya, kakak saya mempertemukan saya dan Lintar ini sampai sekarang akhirnya kami selalu bersama.” jawab Rio sambil memegang pundak Lintar.
“Kalau Lintar, bagaimana ceritanya kamu bersama Rio membuat sebuah album?” presenter bertanya kepada Lintar.
“Begini…” kata Lintar sambil memetik gitarnya, “Di malam hari, di tengah jalan saya menyanyikan lagu Laskar Pelangi sambil memainkan alat musik gitar ini. Terus, ada seorang anak muda yang menghampiri saya, ternyata anak muda itu adalah manager sekaligus kakak kandung seorang penyanyi baru ini, ya… orang yang ada di samping saya saat ini… Saya diajak olehnya. Tetapi, sebelumnya saya menghampiri adik tercinta yang bernama Nova dahulu untuk meminta izin. Tetapi Nova tertidur, dan saya hanya menyanyikan sebuah lagu untuknya di saat dia tidur, saya kembali ke kakak dia dan akhirnya kakaknya mempertemukan saya dengannya…” Lintar menunjuk ke arah Rio.
”Ternyata saat aku terlelap, saat terakhir kakak bertemu denganku kakak menyanyikan sebuah lagu untukku…” air mata yang keluar dari mata Nova semakin deras.
“Kalau adikmu menonton, pesan apa yang akan kamu sampaikan untuknya?” terakhir kalinya presenter itu bertanya.
“Adik saya tercinta tidak mungkin menonton saya disini. Karena kami tidak mempunyai rumah dan kedua orangtua sudah meninggal.” terlihat kesedihan di wajah Lintar saat menjawab pertanyaan presenter, “Tetapi saya hanya ingin menyanyikan sebuah lagu untuknya…
‘Selama aku masih bisa bernafas
Masih sanggup berjalan
Ku kan slalu memujamu

Meski ku tak tahu lagi
Engkau ada di mana
Dengarkan aku… ku merindukanmu’
“Kak Lintar, aku disini menonton kakak… Tetaplah tersenyum walaupun kakak sedang sedih…” Nova berbicara. Meskipun Nova tahu apa yang ia katakan tidak di dengar oleh Lintar, kakaknya, tetapi ia yakin Lintar mendengarnya melalui telepati hati, saling berbicara melalui hati, dari hati ke hati.
Beberapa tahun kemudian, Lintar bersama Rio menghampiri Nova. Nova tersenyum dan berlari memeluk kakaknya itu. Rio terharu dan tersenyum melihat kakak dan adik yang berpelukan. Ia ingin mempunyai adik seperti Nova, dan ingin menjadi kakak seperti Lintar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dorama DETECTIVE CONAN 2

Hmmm

Silahkan beri judul sendiri :)