HELL GIRL (COPAS)

Disadur dari cerita Hell Girl di Nakayoshi edisi 73.


...


Rumah Sakit. Kamar nomor 201. Sivia Azizah.
Seorang suster masuk dengan membawa beberapa alat.
“Sivia, waktunya pemeriksaan suhu tubuh.” Katanya lembut, lalu mengeluarkan termometer.
“Ohya, dan ini majalah yang ingin kamu baca,” lanjut suster pengasuh Sivia yang bernama Rahmi itu, lalu memberikan sebuah majalah.
Sivia menerima majalah tersebut, “Terima kasih..”
Sivia menoleh ke arah Rahmi, “Di dekat sini ada gedung trendi baru, kan? Ami sudah kesana?”
“Eeh... Su... Sudah...” Rahmi menjawab tergagap.
“Seperti apa, tempatnya?”
“Maaf aku harus pergi.” Dia terburu-buru meninggalkan ruangan itu.
“Cih...”
‘Sejak kecil, aku terkena penyakit yang merepotkan. Dan karena itu selama sepuluh tahun ini aku hidup di rumah sakit. Rumah Sakit ini ada di pusat tokyo, tapi aku cuma tahu keadaan diluar hanya lewat TV atau majalah.’
Sivia meletakkan majalah yang sudah dibacanya sampai habis.
“Buku sudah dibaca, nganggur deh. Ke halaman tengah, ah..” kata Sivia lalu pergi keluar kamarnya.
Sampai disana, dia meregangkan ototnya, “Nganggur. Mau ngapain, ya?”
Tiba-tiba..
BRUKK!! Seseorang menabraknya dari belakang.
“Hati-hati kalau ja..” dia terkejut melihat kondisi orang yang menabraknya.
“GYAA!! Darah! Dokter!” jerit Sivia histeris.
Cowok itu membekap mulut Sivia, yang langsung ditepisnya. Dari wajahnya, Sivia tahu, cowok itu bernama Rio. Artis muda yang dulu sempat naik daun. Tapi sekarang tidak...
“Berisik, aku cuma jatuh dari motor tahu! Dasar bodoh! Jangan berisik!”
“Tapi lukamu harus segera diperiksa! Dokter!” seru Sivia lagi.
“Nggak usah! Aku memang niat periksa, tapi nggak punya uang!”
Sivia memandang cowok berpakaian seperti berandalan dihadapannya itu lekat-lekat, “Kalau begitu..”
Dia merogoh saku di piyamanya, “Ini buat periksa,” Sivia menyodorkan uang jajan bulan ini yang tidak bisa dihabiskannya. Rp 50.000
“Hah?”
“Udah, ambil.” Sivia meraih tangannya dan menaruh uang diatasnya.
“Ma..Makasih..”
Sivia tersenyum kecil. Terdengar suara Rahmi memanggilnya, “Sivia!”
Buru-buru dia berlari menuju tempat Rahmi berdiri.
Sudah pasti dia diomeli karena keluar kamar..

...

Besoknya..
“Luka si Rio... Sudah diperiksa belum, ya?” gumam Sivia yang sedang sendirian dikamar.
‘Padahal dia penuh darah, tapi malah jalan-jalan dan teriak-teriak. Dia baik-baik saja nggak ya?
Tapi.. Senang, ya. Bisa punya tubuh sehat sehingga dapat pergi kemana-mana’
Klek.. Pintu kamar terbuka.
“Sivia, gawat! Ada anak berandalan bikin gaduh di resepsionis!” ujar Rahmi terburu-buru sambil berlari ke kasur Sivia, “Kamu punya, nggak kenalan seperti itu?”
‘Jangan-jangan...’ pikir Sivia, ‘Yang kemarin...’
“Iya, dia temanku.” Jawab Sivia datar.
Selang beberapa menit setelah Rahmi pergi, Rio masuk.
“Ri..Rio.. Jarimu.. Kenapa?” tanya Sivia yang melihat jari telunjuk kiri Rio yang diperban.
“Patah.” Jawab Rio singkat.
“Patah? Itu sih, luka berat!” jerit Sivia.
“Iya.. Ohya, ini..” Dia menyodorkan selembar uang biru.
“Kamu sengaja datang untuk mengembalikannya, ya? Padahal nggak perlu..” elak Sivia
“Nggak juga, sih. Aku sekalian periksa.” Jawab Rio
Sivia manggut-manggut. Lalu teringat sesuatu.
Dia mengambil majalah di meja dekat kasur dan membuka halaman tengah,
“Eh Rio, pernah ke taman besar dekat sini nggak?” Sivia menunjuk sebuah foto.
“Engg..Enggak.”
“Eh? Padahal dekat, kamu bisa kesana, kan? Aku sih, nggak boleh keluar!” sungut Sivia sebal.

“Kalau cuma dari buku, kita nggak bisa tahu kenyataan dan kelanjutannya, kan? Beda dengan foto..” Lanjutnya, “Padahal aku ingin tahu banyak hal. Para perawat nggak mau menceritakan padaku karena menjaga perasaanku gara-gara aku nggak bisa keluar.”
Rio tertegun, “Sakitmu.. Parah banget, ya?”
“Begitulah.. Rumahku jauh, jadi orang tuaku jarang datang.” Kata Sivia
Tiba-tiba mata Sivia berbinar, “Oh iya, sampai lukamu sembuh, mainlah kesini sekalian keriksa.”
“Eh..”
“Namaku Sivia Azizah, panggil saja Sivia.” Potong Sivia sebelum Rio sempat mengucapkan sepatah kata. Rio hanya mengangguk-angguk.

Dari luar terlihat seorang perempuan bermata hitam pekat dan berambut panjang yang warnanya senada dengan matanya, berpakaian hitam-merah mengamati Sivia dan Rio.
“Sepertinya... Laki-laki itu cukup rumit.” Desahnya,
“Setahun yang lalu orang tuanya meninggalkan hutang dan kemudian menghilang. Lalu dia ditarik bergabung dengan kelompok berandalan yang dipimpin oleh anak rentenir. Kabarnya, kelompok itu suka melakukan pencurian dan pemerasan.” Sambung temannya, yang terlihat tua, bertopi pemancing, dan berpakaian serba cokelat.
Kemudian mereka menghilang. Perempuan bermata hitam itu adalah... Gadis neraka..


...


Keesokan harinya...
“Rio! Kamu benar-benar datang!” seru Sivia senang begitu melihat sosok Rio masuk ke kamarnya.
Rio mengambil sesuatu dari jaketnya, “Ini oleh-oleh.”
Lembaran foto taman dekat RS tercetak indah.
“Kalau ada tempat lain yang ingin kamu ketahui,  nanti kupotretkan lagi.” Lanjut Rio.
“Ma.. Makasih ya!!” Sivia sontak memeluk Rio karena begitu senangnya.
‘Sejak saat itu Rio datang tiap hari. Dan dia sering memotret tempat-tempat yang ingin ku ketahui.’

Suatu hari..
“Rio.” Kata Sivia, sambil memperhatikan sebuah foto.
“Apa?”
“Aku ingin kesini berdua!” dia memperlihatkan sebuah foto yang dipegangnya.
“Hah? Tapi.. Kamu dilarang keluar, kan?!” Rio kaget
“Ini kan dekat banget. Hari ini kondisiku baik, jadi nggak masalah!”
“Tapi.. Tapi..”
“Tolong, ya?”
Rio menghela nafas, “Baiklah.”
Sampai dijalanan kota, tempat yang mereka tuju.
“Wah.. Ambil foto kenangan, yuk!” seru Sivia senang. Ini kali pertama dia keluar dari RS.
“Nggak!” tolak Rio.
Sivia mengarahkan kameranya ke arah Rio, “Rio, aku foto, ya!”
“Nggak usah!” Rio buru-buru memandang kedepan
Sivia tertawa, lalu mereka berjalan lagi.
“Via.. Kamu cewek aneh, ya.” Kata Rio
“Hah?”
“Biasanya cewek-cewek menghindari orang seperti aku karena takut.”
Sivia terdiam lalu, “Ng... Mungkin aku cewek aneh. Aku sudah lima belas tahun tapi tidak tahu apa-apa.” Sivia menarik nafas,
“Tapi.. Kalau seperti ini, aku seperti cewek lima belas tahun biasa, kan?”
Rio hanya diam. Sivia menoleh ke arah Rio.
“Rio, makasih, ya. Kamu membuat aku seperti cewek remaja biasa, walaupun sebenarnya aku nggak biasa.” Ucap Sivia tulus.

“Aku juga berterima kasih padamu. Karena kehidupanku pun nggak biasa..” kata Rio. Nada suaranya seperti menyimpan suatu kesedihan.
Sivia mengerenyitkan dahi, “Maksudmu?”
“Lho, Rio?!” seru seorang cowok dari belakang.
Rio dan Sivia menoleh. Terlihat segerombol berandalan berjalan menuju mereka. Wajah Rio seketika memucat.
“Katamu kamu sedang dalam perawatan dokter makannya nggak bisa kumpul.” Kata seseorang diantara mereka. Kelihatannya dia ketuanya.
Rio bingung mau menjawab apa.
“Ehh.. Maaf.. Tapi..”
“Tapi apa?!!” seru cowok itu, memukul wajah Rio sampai Rio terjungkal.
“Rio!!” jerit Sivia
“Kamu membantah, hah?! Daripada main sama cewek, lebih baik kamu cari cara untuk melunasi hutang orang tuamu! Paham?!” gertaknya pada Rio.
“Tolong hentikan!” seru Sivia menahan tangis.
Cowok itu menoleh pada Sivia, “Hmm.. Cantik juga. Kalau kamu saja yang menggantikan dia mencari uang.” Ujarnya
“Ke..Kenapa harus mencari uang?” tanya Sivia, mencoba kuat.
“Orang tua Rio berhutang seratus juta!”
Sivia terbelalak, “Apa?!”
Cowok bertampang berandalan itu menoleh pada temannya,
“Kita bawa cewek ini?”
“Mungkin bisa.. Hahaha..” jawab temannya dengan tertawa kemenangan.
“Jangan!!” cegah Rio.
“Aku mohon.. Aku akan kerja mati-matian untuk mencapai target. Lepaskan dia!”
Dia tampak berpikir, “Baik, tapi kalau kamu mangkir lagi, aku benar-benar akan menjual gadis ini!” dia melepaskan Sivia, “Jam dua belas malam kumpul di toko!” suruhnya lagi. Lalu dia dan teman-temannya pergi.
Sivia terlihat pucat lagi.
“Via, kamu nggak papa?” tanya Rio khawatir.
“I..Iya..”
‘Aku takut... Kupikir Rio bakal dibunuh...’ pikir Sivia
Nafas Sivia makin ngos-ngosan.
“Sivia.. Air mukamu..” seru Rio makin khawatir.
BRUKK!! Sivia benar-benar pingsan.


...


Sivia membuka matanya dengan berat. Dia tidak tahu berapa lama dia pingsan.
Saat sadar, dia sudah ada dikamarnya.
Terlihat Rahmi sedang sibuk menjaganya.
“Sivia! Kamu sudah sadar?” seru Rahmi senang. Sivia mengangguk lemah.
“Dasar... Sejak kejadian itu kamu nggak sadarkan diri selama seharian, lho!” omel Rahmi
“Pokoknya kamu nggak boleh ketemu dia lagi!” ancam Rahmi kesal.
Sivia hanya meringkuk dibawah selimutnya dengan cemberut.
‘Rio.. Apakah dia baik-baik saja... Apa maksudnya target? Dia disuruh melakukan apa?’
“Semalam di jalan XX terjadi penjambretan oleh orang bersepeda motor di sudut jalan...” terdengar pembawa acara berita di TV mengabarkan.
“Rasanya tidak mungkin..” Rahmi bergumam, “Sivia, uangmu tidak diambil kan?” tanyanya.
‘Nggak mungkin.. Jangan mengambil, dia bahkan sengaja mengembalikan uangku...’

KREEKK!! Jendela terbuka. Terdengar seseorang masuk.
“Rio?!” kata Sivia kaget.
Rio memanjat melalui jendela dan masuk kedalam.
“Akhirnya aku bisa masuk.”
“Cederamu belum sembuh, kan? Nggak papa?” tanya Sivia cemas.
“Nggak terlalu sakit, kok. Lagipula aku bisa naik motor seperti biasa.” Jawab Rio
Penjambretan oleh orang bersepeda motor... Kata-kata pembawa acara tadi terngiang-ngiang dibenak Sivia.
Rio duduk di kursi sebelah kasur.
“Rio... Kamu... Nggak menjambret, kan?”
“Kenapa kamu tanya begitu?!” tanya Rio dengan nada tinggi.
“Kamu melakukannya? Jangan-jangan uang yang kamu kembalikan padaku pun...” Sivia berkata pelan.
“Bukan! Aku pinjam dari temanku!” elak Rio
“Uang itu.. Kamu ambil kan?” Sivia tidak peduli.
Rio menahan amarahnya.
“Kupikir kamu hanya berputra-putar dengan motor seperti seperti biasa...” Sivia tidak percaya, “Rio, berhentilah melakukan itu!”
“Aku butuh uang! Buatmu yang bsia masuk ke rumah sakit pribadi yang mewah ini, kamu tidak akan bisa memahaminya!” seru Rio marah.
“Memang.” Jawba Sivia singkat, “Tapi Rio, anak kecil pun tahu. Mengambil uang orang lain itu..” Sivia menggenggam tangan Rio, “Tak baik, kan?”
Rio melepaskan genggaman tangan Sivia,
“Kupikir aku bisa merampas harta habis-habisan darimu. Kamu itu cewek bodoh yang tak mengenal dunia dan mau memberikan uang pada cowok yang nggak kamu kenal.” Ujar Rio keras,
“Tapi apa boleh buat kalau sudah ketahuan.” Dia berjalan keluar. BLAMM!! Pintunya sengaja dibanting. Sivia tak bisa berbuat apa-apa.
“Rio...”


...


‘Ternyata dia melakukan itu... Bodohnya aku karena tidak menyadarinya...’ gumam Sivia dalam hati sambil menyalakan laptopnya. Kemarin ayahnya sempat kesini untuk membawakan laptop.
Tiba-tiba pintu terbuka,
“Wah... Laptop ya?” Rahmi berjalan masuk, membawakan makanan.
“Iya, aku dapat izin bawa laptop. Soalna kalau buku cepat habis dibaca, jadi nganggur.” Kata Sivia.
“Ooh..” Rahmi manggut-manggut, “Suasana jadi tenang karena anak itu tak ada lagi.”
“Eh...” Sivia tergagap.
“Rahmi, ceritakan hal yang menarik, dong. Cerita seram juga boleh.” Pinta Sivia.
“Emm... Apa, ya?” Rahmi mencoba mengingat-ingat,
“Ohya, ngomong-ngomong cerita seram, katanya di kota sebelah ada gadis yang hilang, lho.”
“Penculikan?” tanya Sivia penasaran.
Rahmi mengedikkan bahu, “Rumornya, gadis neraka mengirimkan orang yang dibenci ke neraka, ya...”
Sivia terbelalak, “Gadis neraka?”
“Iya. Setiap kita menuliskan nama orang yang kita benci di situs gadis neraka, dia akan mengirimnya ke neraka.” Jelas Rahmi.
Sivia ragu saat akan menekan tombol send.
Dia menuliskan sebuah nama di situs gadis neraka.
“Aku... Harus bisa...” dia menyakinkan dirinya sendiri lalu menekan tombol send.
Malam harinya..
Sivia terbatuk-batuk, membuatnya tidak bisa tidur.
Tok, tok, tok! Jendela diketuk pelan. Sivia terbangun. ‘Siapa malam-malam begini?’
Dia membuka jendela dengan perlahan, sosok itu... Rio...
“Ada apa? Katanya nggak bakal datang lagi?” tanya Sivia
“Perbanmu.. Cederamu belum sembuh, ya?” tanya Sivia lagi.
Rio melepas perbannya dengan asal,
“Nggak apa. Karena sejak awal, jariku memang nggak patah.” Jawabnya datar
“Ternyata... Itu juga bohong.” Sivia tersenyum dingin.
‘Untuk menipuku dan mendekati aku...’
“Aku juga bohong soal mengincar uangmu.” Jelas Rio, “Aku pun ingin hidup seperti remaja lima belas tahun lainnya. Kamu membuatku mengingat kembali hal-hal yang sudah kutinggalkan.”
Rio menghela nafas, “Kamu mendengar soal hutang itu, kan? Itulah alasanku melakukan semua ini. Aku ingin keluar dari kelompok berandalan itu dan menyerahkan diri pada polisi. Jadi ini terakhir kali..” Rio memegang kedua tangan Sivia, “Selamat tinggal...”
Rio memberikan lembaran yang entah apa itu lalu bergegas pergi.
“Rio...” Sivia tak bisa menahan tangisnya lagi.
‘Aku pikir, bila aku punya tubuh sehat aku bisa pergi kemana saja.
Ternyata banyak hal yang membuat Rio nggak bisa bebas. Tapi sekarang...’
“Kurasa dia nggak akan bisa keluar dari kelompoknya. Karena dia akan dibunuh sebelum menyerahkan diri ke polisi.” Kata seseorang. Sivia menoleh kaget.
Seorang gadis kecil berpakaian kimono duduk dijendela sambil tersenyum. Senyum yang menusuk.
“Apa? Kamu siapa?” seru Sivia.
“Kikuri.” Jawab gadis itu.
“Kamu yakin? Kamu pun akan ke neraka, lho. Neraka lebih berat dari yang kamu alami sekarang. Kamu benar-benar yakin?” tanyanya lagi pada Sivia.
Sivia merenung.
“Padahal, kalau kamu tetap seperti ini, tak lama lagi kamu akan bisa ke surga.” Lanjut Kikuri.
Sivia tersenyum, “Tak lama lagi... Begitu, ya?”
“Setidaknya... Aku harus membayar satu kebaikannya.Karena ku sudah banyak menerima kebaikan...”


...


Cowok itu, mencengkeram kerah baju Rio.
“Harusnya kamu meminta uang dari gadis itu, kan?! Kenapa pulang dengan tangan kosong, hah?!” bentaknya.
“Aku... Tidak bisa...” jawab Rio lirih.
Wajah ketua geng itu memerah, “APA?! Kamu pikir kamu bisa mengembalikan hutangmu dengan cara yang nggak efisien seperti menjambret?! Lagipula katanya kamu mau menyerahkan diri ke polisi, ya?!” dia mendorong Rio ke dinding.
“Orang payah sepertimu nggak akan bisa keluar dari sini! Kamu nggak punya impian dan masa depan, tahu?!” gertaknya. Rio merasakan tubuhnya terguncang.
Lalu pandangannya menjadi gelap...

“Rio... Terima kasih ya.” Sivia menarik tali yang ada di boneka voodoo.
Yang artinya dia sudah memegang janji pada gadis neraka.
Sepertinya... Memang begini akhir hidupnya...
Tiba-tiba Kikuri muncul dibelakang Sivia yang sedang menelungkupkan wajahnya diantara kedua lututnya dengan tangan masih memegang tali.
Senyum Kikuri masih ada, senyum yang membunuh...


...


“Cuma ketemu sekali saja, ya!” kata ayah Rio pada Rio yang menarik tangannya.
“Iya!” jawab Rio tidak sabar.
Dia berhenti di depan kamar dimana Sivia dirawat. Rio tertegun.
“Lho, papan namanya?” dia bingung melihat papan nama di depan kamar Sivia yang kosong. Apa mungkin Sivia dipindah kamarnya?
Seorang suster menghampiri Rio.
“Kamu teman Sivia?” tanyanya.
Rio mengangguk ragu.
“Kemarin malam, Sivia meninggal...”


...


Rio menendang kerikil didepannya. Dia berjalan di tempat dimana dulu dia dan Sivia pernah keluar berdua. “Arrgghh!!”
“Akhirnya... Aku bisa keluar dari kelompok itu.. Dan aku sudah menebus kesalahanku. Aku ingin bertemu dia lagi. Tapi kenapa? KENAPA?!!” jeritnya sendirian.

Sementara itu...
“Hanya dua foto saja?” tanya Kikuri. Sivia tersenyum sambil memandangi kedua lembar foto ditangannya itu.
“Sebenarnya aku ingin membawa semua foto itu...” desah Sivia.
‘Aku ingin tahu kelanjutan foto ini...’ dulu dia pernah berkata begitu pada Rio.
Sekarang dia tahu dimana kelanjutannya..
“Kelanjutannya adalah... Neraka...”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dorama DETECTIVE CONAN 2

Hmmm

Silahkan beri judul sendiri :)